28 April 2012

Kasus Penyerangan Komodo! [CERPEN]

Salam chibi buat semuanya~

Quick post! Gue udah ngantuk.. 

  Kemaren gue iseng-iseng ngecek grup lama gue di Facebook. Grup itu semacem grup perkumpulan anak-anak yang demen sama kasus-kasus. Jadi macem grup detektif gitu. Berhubung inspirasi gue buat bikin kasus lagi macet, gue pun jarang mampir kesana. Tapi, kemarin gue mampir kesana. Dan gue nemu sesuatu yang keren abiisss!! MySpace

Salah satu member yang namanya Putu Arya Satwika yang asalnya dari bali, bikin cerpen kasus yang kasusnya diambil dari kasus gue! Huwoowoowowow~! Gue berasa keren.. MySpace

Makasih ya Putu! Kamu baik deeeehh~ MySpace 

Oya, bagi yang penasaran sama cerpennya. Cek yaa!

=========================================================================

KOMODO

Minggu pagi yang cerah adalah saat yang tepat mengunjungi Kebun Binatang Lutung Kasarung. Testimoni itulah yang menarik Franz, Otong, dan Kodit ke KBLK. Setelah turun dari angkot, mereka harus berjalan sedikit kesana. Maklum, bila ingin tepat sampai di depan gerbang KBLK, akan memakan waktu karena kemacetan.
Ketiganya berjalan beriringan. Masing-masing membawa sebuah ransel untuk persediaan selama di KBLK. “Ehm. Kita harus liat komodo haari ini! Secara komodo itu baru dinobatkan menjadi New7Wonders of nature.” Kata Otong membuka pembicaraan. “Bukannya kamu mah mau ziarah ke nenek moyang?” timpal Kodit. Otong mengernyitkan dahi, “Siapa?” “Simpanse” jawab Kodit dingin. “Hahaha lucu dit” jawab Otong tanpa ekspresi.

“Tapi bener kan? Maneh sok nembong-nembongkeun di kelas bahwa menurut Charles Darwin, nenek moyang kita adalah monyet. Nah, Simpanse juga satu bangsa sama monyet.” Franz menimpali. “Iya sih,” Otong mengalah. Makin runyem kalo diladeni, batinnya mengingat Franz memiliki seribu satu jurus dalam silat lidah.
Sampailah mereka di gerbang KBLK. Orang-orang banyak yang memadati gerbang masuk mulai dari wisatawan sampai pedagang yang berharap sesuap nasi dari gerombolan manusia tadi. Di gerbang masuk terpampang tulisan “KEBUN BINATANG LUTUNG KASARUNG BANDUNG” dan dibawahnya, “WELCOME”. Siluet dua ekor monyet di sisi kiri dan kanan tulisan kontras dengan warna hijau di gerbang. “ Nah, tuh nenek moyang lo,” kata Kodit sambil menunjuk sileut monyet. “Ho’oh” jawab Otong dongkol.

Baginya, ini adalah karma membanggakan Charles Darwin dan teorinya secara berlebihan. Pertama mereka mengunjungi kandang burung-burung eksotis dari seluruh dunia. Kodit berkali-kali mengabadikan momen ini dengan kamera ponselnya. “Cieee... abong hapena android euy... hahahaha,” seloroh Franz. “Weq...” jawab Kodit dingin sambil mengambil gambar burung merak yang tengah mengembangkan ekornya.

“So beautiful... Saat dia berkamuflase inilah saat yang paling tepat memotret merak...” kata Kodit. Franz dan Otong saling berpandangan lalu serempak berseloroh, “cieeee....” Kodit hanya menatap mereka dan bilang, “kenapa?”

==========================================================================

“Huffft... cape pisan nih...” kata Otong sambil menegak air mineralnya sambil duduk di bangku sekitar kandang gajah. Franz kipas-kipas dengan brosur peta kebun binatang. Sementara Kodit mengutak-ngatik HP androidnya melihat hasil jepretannya. “Hayu ah urang ningali komodo,” ajak Kodit begitu selesai mengutak-ngatik Hp nya. “Tunggu dulu kang. Kita istirahat dulu,” kata Franz.

Tiba-tiba suasana sekitar riuh. Mereka menoleh kearah timur. Tampak kerumunan remaja dibelakang seorang petugas keamanan yang diikuti beberapa orang. Dibelakangnya tampak seorang asia timur berpakaian rapi sedang menelepon dengan ponselnya. Diikuti lagi oleh seorang wanita muda asia timur yang dikawal dua orang bodyguard berbadan tinggi besar berpakaian ala agen rahasia lengkap dengan jas dan kacamata hitam. Seorang satpam tampak berbincang-bincang dengan seorang asia timur.

“Siapa tuh sampe heboh gitu?” tanya Franz. Otong dan Kodit memperhatikan lebih seksama. “Tau tuh. Kayaknya putri kaisar Jepang,” jawab Kodit asal. “Dit, Franz, it... itu kan... Chu young, iya bro, Chu young!” seru Otong sambil menepuk-nepuk paha Franz. “Cuyung???” kata Franz dan Kodit hampir bersamaan. “Bukan bego! Chu young! Cuyong ce u cu ye o yong. Personelnya girlband Korea tuh... euh... namanya... VII-Ladies!” seru Otong. “Cieee... Ladiezzer nih ye...” seru Kodit. “Fans clubnya VII-Ladies kan??? Hahahaha!” celetuk Franz. Otong terdiam.

==========================================================================

Chu young tampak berjalan sambil membalas senyum dan sapaan fansnya. Dua bodyguard nya tampak dengan gagah mengawal Chu young. Karena penasaran, ketiga sekawan mengikuti dari belakang. Tampak Chu young memasuki Reptila Park, area kumpulan reptil macam buaya, biawak, dan ular. Suasana tampak meriah dipenuhi oleh Ladiezzer.

“Nih cewek kayaknya demen uler ya, bro,” seloroh Franz kepada Otong dan Kodit. “Ho’oh. Kayaknya dia abis ganti kulit. Liat aja noh bening gitu kayak gelas,” ucap Kodit cuek. Franz dan Otong cekikikan mendengarnya. Tanpa disadari percakapan mereka didengar seorang remaja putri yang langsung ngedelek sambil masang muka sewot. Kodit dan Otong tampak malu. Namun Franz malah tersenyum kepadanya. Makin saja si cewek ngedelek dan pergi.

Otong lalu bertanya, “Kenapa malah senyum lo?” Franz sambil nyengir menjawab, “Da awewena geulis pisan, Tong! Aing ngeceng yeuh hahaha,” “Gatau malu sia!” timpal Kodit. Franz hanya cengengesan. Otong mengelap muka Franz dengan tangannya sambil berkata, “Kontrol beungeut, Franz! Wkowkowkowko,”

Lalu Chu young beserta rombongan bergerak kearah kandang komodo. Yap, tampaknya artis korea yang sedang naik daun itu sangat tertarik dengan komodo. Dia menyalami seorang petugas dan bercakap-cakap dengannya. Tampak si petugas sedang menjelaskan tentang komodo kepada Chu young. Kodit akhirnya mengeluarkan hp androidnya dan mengambil gambar Chu young. “Nah, sekarang siapa yang Ladiezzer?” sindir Otong. Kodit diam tanpa kata sampai akhirnya berkata, “Yes! Uploaded to facebook!”

“Eh, eh liat noh!” Franz menunjuk kearah Chu young. “HAH?” Otong membelalak. “Kok boleh sih?” kata Kodit sambil mengabadikan momen tersebut dengan merekam adegan tersebut. “Mau upload ke Youtube?” tanya Franz. “Nanti dirumah,” kata Kodit saat sambil merekamnya. Ya, Chu young diperbolehkan masuk ke kandang komodo, hal yang tidak mungkin dilakukan pengunjung selain petugas kebun binatang. Tidak adil! protes Otong dalam hatinya.

==========================================================================

Kandang itu luas. Mungkin seluas kandang buaya. Kandang itu dibuat tanpa atap. Juga ditutupi pasir dan ada sebuah kolam ditengah kandang. Mungkin agar mirip dengan habitat aslinya di pulau Komodo. Ada 4 pintu keluar di 4 penjuru mata angin. Ada 3 komodo disana. Ada yang sedang diam dipojokan, ada yang tampak tertidur, dan satu yang sedang diamati Chu young.

Ada 4 petugas dikandang tersebut. Seorang petugas muda sedang membawa ember berisi daging segar. Lalu seorang petugas berbadan atletis berkacamata hitam yang tampaknya bodyguard komodo. Seorang petugas senior berkumis dengan peluit dan tongkat. Sepertinya dia adalah pawang sang komodo. Dan satu lagi adalah guide sang artis yang dengan lancar menjawab berbagai pertanyaan sang artis.

Chu young tampak asyik merekam sang komodo dari jauh menggunakan handy cam miliknya. Tentu dengan dikawal bodyguard yang gagah-gagah. Sementara dua orang pria asia timur hanya menunggu diluar kandang. Beberapa fans masih saja memanggil-manggil namanya. Kodit tampak tertarik mengabadikan momen kebahagiaan Chu young dan komodo. Mungkin karena ingin memperjelas rekamannya dan melihat sang komodo lebih dekat, Chu young bergerak mendekati sang komodo dengan dipandu sang guide. Namun.... secara tiba-tiba.... komodo itu bergerak cepat menyerang Chu young!

Hening sejenak... Lalu fans kehebohan begitu juga yang berada di dalam kandang. Sang pawang meniup peluitnya dan mencoba memukul komodo dengan tongkatnya. Namun... sang komodo sangat cepat dan agresif! Chu young yang sudah dari tadi melompat kebelakang jatuh terduduk dan bergerak mundur dalam keadaan terduduk. Seorang bodyguard menendang sang komodo. Pemegang daging yang sedang memberi makan komodo yang lain mencoba mengalihkan perhatian sang komodo dengan melemparkan daging ke suatu sudut. Namun... sang komodo malah terus mencoba menyerang Chu young!

Sementara petugas atletis segera bergulat dengan sang komodo. Dengan sigap dia mengikat mulut sang komodo dan menjinakannya. Wajah Chu young berubah pucat. Dia terduduk dan tampak sangat shock. Sepatu high heels yang dikenakannya lepas. Handy camnya jatuh terhempas. Tas hitam yang dibawanya jatuh dan isinya berantakan. Ia segera digotong oleh bodyguardnya dan beberapa petugas keluar kandang. Sementara si komodo sudah diamankan. Kodit tampak mengarahkan ponselnya yang sejak tadi merekam tragedi komodo. Kemudian Chu young dioper beberapa satpam ke klinik.

Gerombolan fans yang sejak tadi memadati kandang komodo bergerak ke klinik. Dua pria asia timur berjas lari tergapoh-gapoh menembus gerombolan. Disepanjang jalan yang dilalui Chu young terjadi kehebohan. Didalam ruangan paramedis, Chu young diperiksa oleh beberapa petugas paramedis. Serangan komodo memang terkenal mematikan. Wajah semua yanga ada di dalam maupun di luar klinik tampak tegang.

Wajah Chu young masih terlihat pucat. Setelah beberapa pemeriksaan, seorang petugas paramedis berseru, “Alhamdulilah, Chu young hanya shock! Tidak ada luka yang disebabkan si komodo!” Terdengar suara lega dari para fans. Petugas itu lalu menjelaskan dengan bahasa inggris kepada para kerabat Chu young. Salah seorang pria berjas langsung memeluk Chu young.

Lalu si petugas mengusulkan untuk membawa Chu young ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Chu young. Chu young lalu dibawa ke ambulance untuk di bawa ke RS terdekat. Sementara dua bodyguard pribadi Chu young bergegas keluar dan berjalan kearah utara. “Cabut yuk,” seru Otong. “Kemana?” tanya Franz. Sementara Kodit masih mengutak atik ponselnya. “Pasti HT nih,” gumamnya. “Ikutin bodigart aja yuk,” usul Otong. “Ayo ah. Dit, ayo jangan ngebokep terus,” canda Franz. “Hush! Siapa bilang aku lagi ngebokep? Aku lagi ngaskus kok,” sergah Kodit. “Kakus?” tanya Franz polos. “Kaskus, Franz. Tau ga?” jelas Otong. Franz menggeleng.

========================================================================

Sampailah mereka di kandang komodo. Tampak dua bodyguard Chu young sedang melabrak 4 petugas dengan bahasa inggris. Tak ketinggalan kepala kebun binatang juga dilabrak. “Kasian ya. Udah dimarahin kepala kebun binatang, dilabrak sama WNA,” ucap Kodit. “Ho,oh,” sahut Franz dan Otong. (Mulai sekarang, bila ada percakapan dicetak tebal, maka percakapan tersebut hasil terjemahan dari bahasa asing)

“Apa apaan kalian?! Apa kalian tahu bila air liur komodo dapat membunuh manusia?” labrak bodyguard botak berkulit gelap dengan intonasi ala rapper afro-amerika. “Bagaimana kalau klien kita tewas? Kalian mau bertanggung jawab? Apa ini standar profesional di negara kalian? Membiarkan pengunjung dalam bahaya?” kata bodyguard berambut coklat dengan wajah asia timur.

“Kalian harusnya bersyukur klien kalian tidak apa-apa. Apa di negara kalian tidak diajarkan bersyukur? Apa di negara kalian standar bodyguard profesional adalah mereka yang selalu mencari sisi negatif dari suatu kejadian?” balas petugas atletis. Dari semua petugas, hanya dia yang tampak emosi. Si botak lalu menoleh kearah kepala kebun binatang dan berteriak, “Lihatlah para pegawaimu!!! Sudah jelas mereka salah malah menghina warga negara asing! Apa kau tidak pernah mengajarkan mereka sopan santun?!”

“Kau ini! Kau yang menghina kami sejak awal! Oke kami minta maaf atas kelalaian kami dalam menjinakan komodo itu! Tapi jangan menghin...” kata-kata petugas atletis itu dihentikan petugas senior dengan memegang pundaknya. “Diantara kalian pasti ada yang sengaja agar nona Chu-young tewas diserang komodo,” kata si rambut coklat akhirnya angkat bicara.

Semua terkejut, tak terkecuali Franz, Kodit, dan Otong yang menonton adegan pelabrkan tersebut. Si Atletis tampak tergagap. Sementara si rambut coklat tersenyum. “Saya Adam-Lee, mantan anggota biro penyelidikan kepolisian Hong Kong. Saya keluar empat tahun lalu dan menjadi bodyguard independen. Yah, sejauh ini 3 klien saya mendapat percobaan pembunuhan,” katanya memperkenalkan diri tanpa diminta.

Dia membetulkan kacamatanya, lalu berkata penuh percaya diri. “Kau semacam... umm... bodyguard dari si komodo, benar?” katanya kepada si Atletis. Si atletis mengangguk. “Kulihat kau menyelamatkan nona Chu-Young. Terima kasih.” Katanya sambil menatap tajam. Ketegangan terlihat dari wajah si atletis. Lalu Adam melanjutkan, “Sayangnya mengapa anda terkesan hanya diam saja saat pertama kali serangan terjadi? Bukankah seharusnya anda langsung menjinakkan si komodo begitu dia menjadi agresif?”

“Itu karena saya shock tak biasanya si Komo seagresif itu.” Balas si Atletis cepat. Adam hanya tersenyum. “Sudah kuduga itu jawabanmu,” sambungnya. Lalu ia menoleh pada petugas berkumis pembawa daging. “Komodo tidak tertarik dengan daging sekecil itu, pak...” Katanya dinging. Si kumis lalu tergagap. “Sudahlah tidak usah anda jawab bila tidak bisa,” timpal Adam.

Pandangannya lalu mengarah kepada si pawang. “ Mengapa anda memukul si Komodo dengan tongkat?” tanyanya. “Yah ini tongkat khusus...” jawab si Pawang yang keningnya penuh peluh. “Hooo... semacam penakluk?” tanya Adam. Si Pawang hanya mengangguk. “Oohhh... begitu. Sayangnya kekerasan hanya menambah agresif hewan seperti dia.” Jawab Adam ringan. “Dan anda tentu tahu benar soal itu kan?” sambungnya. Si pawang terkejut dan tak bisa berkata-kata.

Lalu giliran si guide yang tampak pucat. “Mengapa anda biarkan nona Chu-young mendekati si komodo?” tembak Adam dengan pertanyaan. “D...di... dia yang minta....” kata sang guide. “Lucu sekali... anda kan guide. Harusnya memperingatkan pengunjung mengenai apa-apa yang bahaya.” Adam menimpali. Si guide hanya tertunduk malu.

Jelas sekali Adam ingin menyudutkan mereka semua. Si botak hanya tersenyum. Sementara kepala kebun binatang hanya menganga. “Aneh sekali. Mengapa kelalaian-kelalaian semacam itu bisa terjadi bersamaan. Apa pendapatmu, Smith?” kata Adam kepada si botak Smith. Smith hanya mengangkat bahunya. Adam lalu menatap mereka satu persatu. Kemudian ia tersenyum misterius.
“Panggil polisi,” ucapnya dingin.

=========================================================================

Polisi memang sudah ada di kebun binatang. Tak sampai 3 menit polisi sudah sampai di TKP. Adam lalu menjelaskan segalanya kepada pak polisi. Sementara itu staff kebun binatang saling pandang. Franz yang memperhatikan dari luar pagar tertunduk. Sebenarnya ia merasa kasihan. Dilihatnya tas Chu Young yang berantakan. Semua heboh sampai-sampai tasnya tidak ada yang mempedulikan.

Ya, tas kulit hitam berlabel brand terkenal dari Prancis itu berserakan isinya. Handy cam, kamera, kosmetik, pembalut, kacamata, paspor, dompet... “Hmmm... komodo adalah salah satu dari banyak predator yang sangat peka terhadap bau darah, hewan lain yang memiliki kemampuan serupa contohnya hiu...” Kodit tiba-tiba berkata dan langsung dipotong Otong, “Tahu dari mana?”
Kodit mengalihkan pandangan dari ponsel androidnya lalu ditatapnya Otong dengan senyuman kalem, “Wiki,” jawabnya singkat. Franz tidak teralu tertarik dengan obrolan mereka. Ia masih berpikir keras. Mata sipitnya menatap kosong kearah tas yang isinya berserakan itu. Tunggu dulu, darah?

“Dit, tadi kamu bilang apa? Darah? Sensitif?” kata Franz spontan. “Terutama darah segar,” Kodit melengkapi. “Victoria!” teriak Franz mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Ia menyuruh kedua rekannya itu menjaga isi tas yang berserakan itu. Dengan lari bagaikan menjangan ia sampai dan berdiri di ambang pintu gerbang kandang komodo.

“Jadi begitulah saya menyimpulkan kelalaian mereka yang “kebetulan” bersamaan itu sebenarnya sudah direncanakan...” Adam terdengar menutup argumennya. Polisi mengangguk-angguk. “Why do you think so?” teriak Franz yang mengagetkan semua. Smith dengan berang mendekati Franz, namun ditahan Adam. Adam lalu mendekati Franz. “Ada masalah apa ya nak?” katanya sambil jongkok. Franz tahu ini adalah gestur “merendahkan”.

“Menurut saya bapak-bapak ini tidak bersalah, namun...” kata-kata Franz terpotong karena Satpam berusaha menariknya keluar. “Maaf dek, kamu salah tempat.” Kata sang satpam. Adam mengisyaratkan agar melepaskan Franz. “Biarkan dia bicara,” katanya. Lalu ia merangkul Franz dan membawanya menghadap para terduga. Otong sebenarnya sudah mengajak Kodit pergi. Namun, dengan dingin remaja berkacamata itu menolak.

“Ceritakan nak, mengapa kamu membela bapak-bapak ini,” kata Adam. Franz menghela nafas. Wajahnya tersenyum mantap. Dengan gestur yang santai ia membuka argumennya. “Kita semua tahu kan bahwa komodo adalah salah satu dari banyak predator yang sangat peka terhadap bau darah, hewan lain yang memiliki kemampuan serupa contohnya hiu...” Franz membuka argumennya. Kodit dan Otong ternganga mendengar bahasa Inggris Franz yang selancar itu, sampai-sampai mereka mengira arwah Michael Jackson merasuki Franz.

Adam tersenyum, “Ya kita pelajari itu di ensiklopedia anak-anak,” kata Adam. Semua yang ada disitu penasaran kalimat apa lagi yang akan meluncur dari bibir Franz. Ia berjalan menuju tas Chu Young yang isinya berserakan itu. Lalu ia memungut sesuatu. Tak lupa ia mengedipkan sebelah matanya kepada kedua temannya di luar kandang. Otong dengan genit membalasnya.

Lalu ia kembali menghadap sang agen. Semua saling pandang. Ia mengangkat tangannya yang menggenggam pembalut itu. “Benar ini pembalut?” tanya Franz. “Pertanyaan bodoh...” umpat Smith. “Semua yang punya mata dapat melihatnya,” jawab Adam. “Ya itu memang pertanyaan bodoh. Tapi... kita dapat suatu kesimpulan, kan?” kata Franz. Semua terdiam. Adam tersenyum. “Ya, kak Adam, ini saya ambil dari tas nona Chu Young. Ini mengindikasikan nona Chu Young...” Franz sengaja memotong kalimatnya. Seketika itu Adam tersentak. Hal yang terlambat disadarinya, namun ia berusaha mengendalikan dirinya, dan berkata pelan, “Nona Chu Young sedang menstruasi!”

Semua terbelalak. Tak ada yang menyadari hal itu. Semua teralu heboh dengan serangan komodo dan mempersalahkan para staff kandang komodo hingga melupakan satu detil, ada apa dengan Chu Young. Pria asia timur berjas yang tak lain adalah manager sang superstar angkat bicara, “Ya nona Chu Young memang sedang datang bulan.” Seketika itu wajah Adam memerah.
“Jadi, komodo itu menyerang karena mencium bau darah dari nona Chu Young. Ia sepertinya sudah lama menunggu menyerang. Namun komodo hewan pintar dalam berburu. Ia akan menunggu sampai nona Chu Young mendekat dan saat nona Chu Young mendekat ia baru menyerang. Beruntung reflek nona Chu Young bagus. Jadi kesalahannya ada pada nona Chu Young.” Jelas Franz

Semua terpana. Termasuk Kodit dan Otong. Mereka tak mengira Franz yang easy-going itu mampu berbicara seperti itu. “Lain kali tolong larang wanita menstruasi masuk dalam kandang komodo, pak.” Kata Franz kepada staff kebun binatang menutup argumennya. Adam bertindak cepat dengan meminta maaf kepada staff kebun binatang, begitu juga Smith. Adam sempat memandang Franz dengan kagum sebelum meninggalkan tempat itu dengan malu.

Pak polisi tak sanggup menutupi kekagumannya pada Franz. “Hebat kamu nak! Dunia harus tahu kehebatanmu!” kata seorang polisi. Franz tersenyum seraya menjawab, “Oh, jangan, pak. Sebut saja kasus ini dipecahkan oleh “orang dalam” kepolisian,” Si polisi keheranan. “Lho? Kenapa, nak? Ini kan membanggakan?” seru si polisi. “Ah, saya tidak mau dikejar wartawan!” kata Franz meyakinkan.

Si polisi tertawa. Ia sempat mendesak namun terus ditolak Franz. Akhirnya ia mengalah. “Bisa anda rahasiakan mengenai saya, Pak?” kata Franz kepada si manager. Ia sempat bengong. “Please...” kata Franz memelas. Ia tersadar dan mengangguk. Akhirnya semua yang ada di kandang itu sepakat merahasiakan keberanian Franz siang itu.

==========================================================================

“Silahkan mas,” kata seorang mbak-mbak sambil menghidangkan minuman kepada tiga sekawan itu. “Wuih maneh teliti juga ternyata, Franz!” kata Otong sambil menikmati es lemon tea yang super asam itu. “Bukan hanya teliti, tapi juga berani ngomong, pede pula,” Kodit menimpali lalu meneguk susu coklat dingin dihadapannya. Franz lalu nyengir dan menyeruput susu soda pesanannya.

Ketiga sekawan itu kini sedang duduk di warung pinggir jalan sebrang KBLK untuk makan siang. “Bahasa inggrismu lancar juga ternyata Franz!” puji Kodit. Franz kembali nyengir. Tak lama, nasi dan sate kambing 5 tusuk tersaji di hadapan mereka. Merekapun makan dengan nikmatnya. “Asli, hebat kamu, Franz bisa teliti kayak gitu,” puji Otong setelah menelan makanan dimulutnya.

Franz tidak menjawab kali ini. Ia mengunyah dengan tatapan kosong. “Manusia emang sering lupa melihat hal-hal kecil dan sederhana karena sibuk melihat hal-hal besar dan kompleks, lalu salah bertindak karena hal-hal kecil sering kali menjadi dasar permasalahan,” kata Franz penuh makna. Kodit dan Otong melongo, takjub akan kata-kata Franz. Namun, sedetik kemudian mereka agak illfeel setelah Franz berkata, “Aseeek!” dengan gaya yang ga-ba-nget

Tak terasa makanan mereka telah habis, namun mereka masih kurang kenyang. Maklum, mereka beli “paket super irit” dengan harga Rp.6000, nasi dengan porsi sego kucing* dan sate kambing 5 tusuk. “Oh ya, dit! Boleh pinjem HP?” Franz tiba-tiba bersuara. “Buat apa ya?” Kodit mengernyitkan alis. “Buka kaskus,” jawab Franz singkat. “Lho, katanya gatau kaskus, Franz,” Otong keheranan. Franz menoleh, lalu berkata,

“Franz wae dipercaya,”

Sekian aja sih. Thank's for read. Salam super
==========================================================================

Keren, gue bener-bener terkesan..! Tingkat kemiripan gue sama Johny Depp meningkat!
Sekali lagi banyak-banyak terimakasih buat Putu! Kamu ganteng deeehh *cubit putu* MySpace 

Lain kali, bikinin gue lagi yang kayak begini ya!

Oke, segitu dulu kali ya? Gue udah ngantuuk..



SUKA? SHARE YA~!

No comments:

Post a Comment

Jangan nge-SPAM! Komen SPAM akan langsung dihapus tanpa ba-bi-bu